Sabtu, 04 Agustus 2012

Bullying : Penanganan dalam Kelas (Bagian 1)

Beberapa buku telah membahas tentang bullying dan bagaimana menanganinya. Pada postan kali ini saya akan mengutip beberapa  langkah dalam MENCEGAH terjadinya bullying dalam kelas. Ini disadur dari dua buku yaitu Protecting Children from Violence editan Lampinen dan Sexton-Radek dan buku Bullying Implication in the Classroom. Buku yang pertama jauh lebih baru dan lengkap, serta membahas kekerasan secara menyeluruh, tidak hanya bullying saja, jadi saya akan meringkas buku yang pertama dulu.

Contoh kasus :

Sekilas penulis dari bab 4 dalam buku Protecting Children from Violence memberikan sebuah gambaran tentang sebuah kelas. Seorang guru matematika menulis persamaan di atas papan tulis. Sedangkan beberapa murid mendengarkan, banyak diantara yang lain malah dorong-dorongan dan salah melihat buku catatan teman yang lain. Kegaduhan pun timbul. Pada poin ini, tak ada satu pun orang dewasa yang akan menyalahkan bila sang guru mulai memicingkan mata atau bahkan membentak kepada murid-muridnya yang gaduh tersebut. Akan tetapi, bila kita melihat dari sudut pandang para murid, bisa saja 'hal yang lumrah' tersebut adalah sebuah ancaman agresivitas.

Sebelum kita membahasa bagaimana mencegahnya mari kita melihat beberapa faktor dibawah ini :
  • Bullying secara sosial, yang dipengaruhi oleh kekuatan (sosial) si pelaku bullying (agressor)
  • Bullying secara personal, yang disebabkan (setidaknya bagi si pelaku bullying) oleh kepribadian si korban
  • Apakah si korban ikut dalam suatu komunitas seperti gang (gang motor, penjual narkoba, dll)
  • Guru sebagai korban bullying karena berbagai faktor, seperti terlalu banyak pekerjaan, jumlah murid yang terlalu banyak (kelebihan kuota), dan para orang tua yang meminta prestasi anak terlalu tinggi. Guru seperti ini juga kerap
  •  menjadi pelaku bullying pada anak-anak.
  • Agressor atau pelaku bullying memiliki banyak kesempatan di kelas. Ini berarti bahwa kesempatan tersebut harus diminimalisir.
 A. Pencegahan dan Penanganan terhadap Pelaku

Bullying biasanya dilakukan oleh individu yang memiliki sikap agresif dan memiliki gangguan emosional. 
Beberapa pelaku bullying dan kekerasan dalam lingkup sekolah tersebut biasanya lelaki dan menganggap bahwa kekerasan diperlukan dalam pergaulan. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap sudut pandang serta kesehatan mental individu tersebut selanjutnya. 
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada beberaap faktor yang membuat individu dengan disabilitas, kemiskinan (menurut penelitian ini juga faktor pendorong kekerasan), dengan penyakit mental yang diturunkan oleh orang tua (parental mental illness, bisa juga karena orang tuanya memiliki hubungan yang sangat buruk) dapat memenuhi tugas perkembangannya secara normal. Faktor tersebut adalah ketegaran (resilience). Ketegaran bukanlah sesuatu yang dipunyai secara alami, tetapi merupakan suatu ketrampilan yang dihasilkan oleh berbagai faktor, utamanya adalah karakter personal dan pengaruh lingkungan. Ketrampilan itu terkadang tidak bisa didapatkan di sekolah, karena berbagai faktor. Lalu bagaimana langkah kita sebagai pendidik agar anak terhindar menjadi pelaku bullying?
Untuk 'menyelamatkan' anak ke dalam tugas perkembangan yang sesuai dengan usianya, inilah beberapa yang selalu disarankan para psikolog anak :
  1. Gunakan waktu tatap muka antar guru dan murid yang dimaksud secara personal (one-to-one). Hadirkan diri Anda sebagai pendidik yang mau mendekatkan diri (self-disclosure) dengan anak murid tersebut. Jangan menghukum. Anak seperti ini terlalu banyak 'dihukum', baik di rumah, di pergaulannya, sehingga anak sudah cukup puas (tersatiasi, bahasa Psikologi Behavioral-nya) dengan hukuman dan hukuman sama sekali tidak ada pengaruhnya. Bekerjasamalah dengan orang tua, katakan sebenarnya bahwa anak sudah terlalu banyak dihukum dan memerlukan tanggapan positif dari lingkungan sekitar. Bekerja sama dengan guru-guru dan komponen lain di sekolah juga untuk memberikan lingkungan yang ramah terhadapnya. Berikan dorongan dan support emosional dan akademis
  2. Gunakan kurikulum yang menyediakan support yang mengikutsertakan peran pendidik secara dekat dan hangat.
  3. Buatlah program sekolah yang menyediakan rasa keikutsertaan, pencapaian (prestasi), dan berbasis komunitas.
  4. Kompetisi dikurangi, kurikulum ditujukan kepada tujuan pencapaian diri (yang berbeda setiap individu), usaha yang disiplin (jadi berakar pada proses, bukan hasil)
  5. Setiap ketrampilan dari setiap murid diawasi, bagiamanakah perkembangannya, sehingga bila ada poin yang belum terkuasai, segera diadakan diskusi yang hangat dengan anak.
  6. Dalam mengelola kelas, hendaknya menggunakan teori Multiple Intelligences. Setiap anak itu pandai, setiap anak pintar dan berbakat, hanya terdapat perbedaan dalam jenis kecerdasannya. Jangan bandingkan anak dengan kecerdasan kinestetik dengan anak dengan kecerdasan verbal. Itu namanya tidak adil. Jangan hanya menunjuk seseorang dan menunjukkan preferensi yang berlebihan kepada seorang anak. Diskriminasi seperti ini hanya akan menggagalkan tujuan terapi anti-bullying. (Sexton-Radek: 2005)
Di atas adalah beberapa tips untuk mencegah anak dengan problematika emosional menjurus pada kekerasan. Beberapa diantaranya sepertinya tidak sejalan dengan competitiveness. Yah, tapi kompetisi kalau adil namanya bukan kompetisi dong. Untuk para pendidik, mari kita perluas wawasan kita, terutama wawasan psikologi kita. Jangan terus-terusan menyalahkan anak murid, ingat! Kita mungkin dibayar pemerintah, tapi bila kita jadi guru yang sok-sokan, maka itu namanya makan gaji buta. 

Thanks for reading :)


Kekerasan Bukan Jawaban : About This Blog

Assalamu'alaikum

Blog ini saya dedikasikan pada penanganan berbentuk bimbingan dan konseling terhadap segala bentuk kekerasan. Kekerasan terjadi bukan hanya karena satu dua sebab saja, tetapi multifaktoral, sama seperti kejadian dan fenomena psikososial yang lain. Polanya pun berbeda-beda, menurut kultur atau budaya di setiap tempatnya. Sumber yang ada di blog saya kebanyakan adalah buku keluaran luar negeri (Barat), tetapi banyak juga yang memfokuskan pada kebudayaan Timur. Saya juga hanya memfokuskan pada PENANGANAN, bukan hanya sekedar kritik sambal ga pedas ajah. 

Saya belum lulus menjadi konselor ketika membuat blog ini, tetapi demi urgensi kedamaian semua pihak, tak ada salahnya blog ini menjadi daftar baca kawan semua yang ingin berjuang melawan kekerasan pada masa ini. Karena sudah terlalu banyak blog, situs yang isinya hanya mengungkapkan kritik dan kekesalan pada pemerintah saja, saya akan mengulas pemecahan masalahannya dalam lingkup lokal, seperti lingkungan sekolah dan kelas.

 Manusia yang hanya bisa mengkritik tanpa tahu apa yang terjadi adalah salah dan itu hanyalah mekanisme pertahanan dirinya untuk mengungkapkan bahwa 'dunia itu tidak sempuran, jadi gapapa dong kalau aku banyak salahnya'. Say that it's OK being imperfect is totally useless. It's not going to change anything, in fact it strengthens the reason why people become insensitive.  Kita sudah dianugrahi otak berkapasitas lebih besar daripada primata lain, PERLU sekali untuk digunakan, bukan untuk dibuang. 

Kekerasan banyak yang terjadi karena konflik, budaya dan lain-lain. Banyak kekerasan yang mengatasnamakan agama pada saat ini sehingga banyak orang yang pesimistis terhadap agama. Saya bukan orang bodoh dan buta agama yang sewenang-wenang menyalahkan Tuhan hanya karena oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menggunakan agama untuk kepentingan apa pun. Agamanya tidak salah, yang salah orangnya, mau mukul kok pakai ceramah, di dalam negara damai kok mau main senjata. Saya percaya agama, karena secara historis, sosiologis dan psikologis telah banyak membantu manusia untuk bisa lebih manusiawi. Saya takkan menyalahkan ajarannya sepanjang itu baik. 

Wassalamu'alaikum.

Peace and Love

Tinachan